Rabu, 03 Agustus 2016

Sireum di Tanah Serang



Kita percaya bahwa satu langkah kecil yang kita lakukan akan bermanfaat besar untuk masa mendatang. Aksi Relawan Indonesia Mandiri (RIM) di Kecamatan Mancak, Serang (31/07/2016) menjadi saksi bahwa untuk menolong sesama tidak harus menunggu 'punya'. Satu langkah kecil saja, itu sudah lebih dari cukup dari ide besar yang hanya terpasung dalam benak.

Senin, 25 Juli 2016, RIM mendapatkan kabar bahwa kemarin (24/07/2016) telah terjadi longsor yang disertai banjir melanda sejumlah desa di Kecamatan Carita dan Labuan, Kabupaten Pandeglang dan Kecamatan Anyar, Kabupaten Serang. Salah satu posko program Baktiku Untuk Negeri yang dicanangkan oleh kawan-kawan pun menjadi salah satu titik bencana. Tidak banyak ba... bi...bu... kami memutuskan untuk berangkat ke lokasi bencana pekan itu (30/07/2016). 

Sebelum menuju lokasi (Desa Cikeudung, Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang), kami membagi tugas menjadi 3 tim; Tim Medis, Tim Trauma Healing dan Tim Pembuka Jalan. Trus kamu masuk tim mana, chia? Eits walau saya mudah trauma, tapi saya masuk tim Trauma Healing lho. Kebayang kan kan gimana adik-adik saya yang pegang? Makin trauma lah mereka wkwkwkwk.....

Salah satu kegiatan yang kami (Tim Trauma Healing) lakukan adalah mandi baju bekas. Ide ini terinspirasi dari permainan mandi bola yang terbesit seketika. Saat itu, kami melihat tumpukan sumbangan baju bekas sebanyak satu tenda besar, dan adik-adik asik bermain diantara tumpukan baju-baju tersebut. "Kita kesana yuk! Bikin tebak-tebakan ke adik-adik. Siapa yang tidak bisa jawab kita lemparin pake baju-baju bekas itu. Yang terpenting sekarang kita berbaur dulu dengan mereka, ikuti ritmenya," ungkap salah satu relawan. Beranjaklah kami dari ruang kelas SD Lebak yang dijadikan tempat pengungsian korban longsor menuju tenda, tempat gundukan baju-baju bekas bersemayam.
"Assalamu'alaiku, adik-adik. Siapa yang mau main lempar baju bareng kakak-kakak disini, ayooooooo?"
"Sayaaaaaaaaa......"
Eng ing eng.... permaian pun dimulai. Lihatlah ekspresi keceriaan kami.




Kebayangkan kan yaaaa, gimana debu-debu yang ikutan loncat keluar bersamaan dengan baju-baju bekas yang kami lemparkan? Kibas-kibasin tangan di depan hidung. Oke, fine. Berhubung adik-adik sudah ceria dan menerima kita sebagai kakak yang menyenankan (Ge-eR, wkwkwk), saatnya kita ubah permaian.  Kami pun mengeluarkan amunisi trauma healing; kertas templte yang bisa dihapus tulisannya, dan spidol warna. Kami meminta adik-adik untuk duduk dan berkumpul di tengah, lalu kami bermain tebak 'Siapakah aku?' Kakak relawan memperagakan dan atau menirukan suara binatang dan adik-adik menebak dan menuliskannya pada kertas yang sudah dibagikan. Beginilah jadinya.....



 
Permainan ini tidak bertahan lama. Berteriak-teriak tanpa toa sambil meragakan nama-nama binatang ditengah puluhan adik, ditemani debu-debu yang ikutan girang dengan kehadiran kami itu sama dengan SERAK, kawan-kawan wkwkwk. Strategi pun diubah. Akhirnya, kami membagi adik-adik menjadi kelompok-kelompok kecil, masing-masing kelompok dipegang oleh seorang relawan. Disana kami bermain sambil belajar sesuai dengan permintaan adik-adik. Ada yang melanjutkan tebak 'Siapa aku?', ada yang belajar berhitung, ada yang belajar huruf abjad, dan ada yang asik story telling. Salah satunya saya, hihiy... Emang, chia bisa story telling? Eits, jangan sedih, ini juga modal nekat, wkwkwk.

Kali ini saya berkisah tentang Nabi Nuh as. Entah kenapa saya merasa kisah ini cocok untuk disampaikan ke adik-adik, selain karena mereka adalah korban longsor dan banjir bandang, kisah ini juga memuat tentang binatang-binatang yang turut serta dalam perahu Nabi Nuh as. Dan adik-adik terlihat antusias ketika kita menirukan suara dan gaya binatang. Benar saja, saat meragakan gajah, ".....hidungnya panjaaang, telinganya lebaaar, badannyaaa.....?" Sontak adik-adik menjawab, "Genduuuuut, hahahaha....." Ups, maaf bagi yang memiliki kelebihan berat badan. Jangan paber, ah! 

Sampai pada saat saya menceritakan tentang segerombolan binatang kecil, hidup berkerumun, suka menolong, dan klo bertemu dengan teman-temannya saling memberikan salam. "Ada yang tau, binatang apa itu?" Tanya saya sambil celingak celinguk memperhatikan ekspresi adik-adik. Mereka berusaha menebak nama binatang yang ceritakan. Nampaknya pertanyaan saya cukup sulit bagi mereka. Ada yang saling menatap (berharap dapat contekan kali yak?), mengadahkan kepalanya ke atas (nyari cicak) dan ekspresi mainstreamm nunduk! Cukup lama saya menunggu jawaban, kemudian samar-samar saya mendengar suara, "Hmm... hmm... itu..., " krik krik krik... hahaha. Tetiba Aep (5 tahun) teriak, "Bebeeeeeek..." Wkwkwk, saya spontan tertawa. Ups, enggak salah sih, bebek juga kan klo jalan tertib. Tapi ngebayangin bebek salaman sama teman seperbebekannya itu bikin saya ngikik...


"Ada yang lebih kecil dari bebek. Dia suka masuk di lubang-lubang tanah. Ayooooo, binatang apa yaaa?"
"Oooh, sireum!" jawab Ridwan.
"Siireeum? Sireum itu apa, ya?" pasang muka blo'on.
"Siireeum... nu aliit, tiasa ti taneh..." Ian bantu untuk menjelaskan. Polos, bahasa sundanya  fasih. Ya sama aja bo ong, atuh kaseeep. Abdi teu ngarti, garuk-garuk tanah di pojokan.

Aisyah yang lebih besar dan paham diantara teman-temannya, senyum tapi terlihat jelas diwajahnya ia geregetan! Akhirnya bilang, "Semuut, kak.....". Lalu kami tertawa, atau lebih tepatnya menertawakan saya. Hukum karma, wkwkwk.

*** Catatan penting sebelum melakukan aksi kemanusian ke daerah. Pelajari bahasa daerah yang dituju. Jika tidak, selamat istiqomah memasang muka cengo.





Kiri-Kanan: Aisyah, Saya, Ridwan, Saipul, Aep, Ian, dan Rifki.

Itu kisah dari tim Trauma Healing. Bagaimana dengan tim Medis dan Pembuka Jalan? Tidak kalah seru tentunya. Turun ke lokasi bencana dengan kondisi jalan yang masih berlumpur hingga setinggi dengkul (katanya, entah dengkulnya siapa :P) dengan sepatu boots yang bukan ukurannya, plus membawa peralatan medis itu bukan perjuangan yang sederhana bukan? Coba saja lihat ini







 

Sebaik-baik perencana 

Setelah semua tim selesai melaksanakan misi kemanusiannya, kami memutuskan untuk kembali ke Jakarta pukul 15.00 Waktu Indonesia Bagian Banten. Qadarullah, kami mendapatkan kabar bahwa ada kendaraan membawa alat berat menuju posko. Rencana kepulangan kami pun tertunda, karena jalur kendaraan hanya cukup untuk satu kendaraan saja.

Oke... acara bebas. Yang mau rehat, silakah rehat disalah satu rumah warga. Yang mau makan mie instan, silahkan pesen diwarung depan posko (*lhoo..). Yang mau berkeliling dan berbincang dengan warga sekitar juga monggo lho ya.

Sampai salah satu relawan PMI, tergesa-gesa masuk posko medik, "Dokter, tolong. Ada warga kecelakaan motor dibawah, sepertinya parah" Seperti biasa, tanpa ba... bi... bu... semua bergerak. Tim medik dengan perlengkapan kedokteran dan obat-obatannya segera menuju ke TKP diikuti dengan Tim Pembuka Jalan yang siap membawa tandu dan mengamankan jalan saat evakuasi korban. Lalu tim Trauma Healing, Ngapain? Nonton lah, wkwkwk.... Enggak gitu juga sih, karena akhirnya kita diminta mengkondisikan anak-anak dan warga yang pada kepo ngerubungin posko kesehatan. Mereka pikir  ini sinetron kali ya? Padahal tadi juga saya ikutan nonton :P. Sampai salah satu relawan berucap lirih, "Oh, ini toh hikmahnya kita tidak jadi pulang jam 3."

Yups, Dia-lah sebaik-baik perencana, mengatur alat berat naik ke lokasi bencana bersamaan dengan rencana para relawan kembali ke Jakarta. Mengatur relawan Daarut Tauhid (DT) untuk bersinergi dengan fasilitas ambulance dan tabung oksigennya. Dia-lah sebaik-baik perencana, menunda kepulangan kami ke Jakarta agar menjadi perantara kebaikan untuk korban kecelakaan dengan apa yang kami punya.  








Mungkin kehadiran kami tak begitu berarti dibandingkan relawan lainnya. Seperti sireum, kami kecil, tak terlihat atau bahkan berpeluang untuk terinjak. Tapi kami tidak lupa bahwa sireum itu selalu bekerjasama, meski beban dipundaknya lebih besar dari badannya, ia akan tetap memanggulnya, bersama. Sireum saling peduli. Kebiasaannya yang selalu menyapa jika bertemu dengan saudaranya adalah bukti bahwa ia memiliki kepedulian dan keakraban yang tinggi. Sireum tidak pernah menyerah. Bila ada yang berusaha menghalangi, ia akan memanjat ke atas, menerobos ke bawah atau berputar mencari jalan keluar, sekuat tenaga.


Inilah kami, yang masih berusaha untuk terus peduli. Seperti sireum di tanah Serang yang senantiasa bekerjasama menyuburkan tanah ibu pertiwi.


*Hari terakhir dibulan syawal, 1437 H.
Setelah sekian lama enggak ngeblog :P
 

Senin, 18 Januari 2016

Berjumpa


Ku ingin berjumpa sebelum terjaga
Sekekap saja
Dalam gelombang alpha
Kusebut namamu
Senyumku pun mengembang

Tak apa meski setelah itu harus terjaga
Tapi bayangmu akan tertinggal dipelupukku
Wajahmu yang bersahaja
Tegap tubuhmu dengan balutan jubah merah
Aku menengadah
Membandingkanmu dengan purnama
Ah... kau lebih mempesona

Sekejap saja
Biarkan mataku dan matamu saling bertemu
Meski akan ada air mata

Sekejap saja
Katakan sepatah dua kata
Aku ingin mendengar suaramu

Sekejap saja
Aku rindu
Meski sering kusebut namanu
Tapi itu belum cukup untukku

Pantaskah?
Sedang sunnah-ku masih belum seberapa....

*repost dari FB
Salemba, 060116

Jumat, 16 Januari 2015

Ribuan Tahun yang Lalu



Ribuan tahun yang lalu
Saat penduduk Thaif melemparimu batu 
Hingga lemah, bersimbah darah
Malaikat Jibril menawarkan untuk mengguncangkan gunung
Sebagai balasan atas sakitmu
Tapi engaku tidak mau

Ribuan tahun yang lalu
Saat Aisyah ra meminta didoakan olehmu
Engkau telah mendoakan kami terlebih dulu
Dalam sholat lima waktumu
Ruku' dan sujudmu hingga subuh
Ada tangis yang tak henti untuk kami
"Ya, Allah. Ampunkanlah dosa-dosa umatku," katamu.

Ribuan tahun yang lalu
Siang dan malam
Engkau risaukan keselamatan kami
Dari tipuan duniawi & kejahatan yang tidak manusiawi
Hingga kehidupan diakhirat nanti

Ribuan tahun yang lalu
Saat engkau mengatakan ingin sekali bertemu dengan saudara-saudaramu
Hingga para sahabat cemburu, "Bukankah kami ini adalah saudara-saudaramu?"
"Kalian adalah sahabatku. Saudaraku adalah umatku yang telah beriman 
tapi belum pernah melikatku."
Rindumu pada kami, diatas sahabatmu sendiri

Ribuan tahun yang lalu
Engkau memohon pada Sang Pengatur Kehidupan
Agar rasa sakit sakaratul maut yang dirasakan umatmu
dilimpahkan seluruhnya kepadamu

Ribuan tahun yang lalu
Engkau tetap mengkhawatirkan kami
Padahal engkau memiliki istri, anak dan sahabat yang engaku cintai
Tapi diakhir hayatmu, justru kami yang engkau panggil dengan lirih
Ummati... Ummati.. Ummati...

Ribuan tahun yang lalu
Engkau cintai kami hingga kini
Melebihi istri, anak, dan sahabatmu sendiri
Bahkan melebihi dirimu sendiri
Ya Rasulullah... Bagaimana kami membalas cintamu ini


*Jumu'ah Mubarokah, 25 Rabiul Awal 1436 H

Jumat, 09 Januari 2015

Beginilah Seharusnya Pecinta



Tsauban, seorang hamba sahaya (budak yang dibebaskan oleh Rasulullah SAW). Tubuhnya kurus, semakin hari  semakin kurus dan pucat, wajahnya menandakan kesedihan yang mendalam. Kondisinya membuat para sahabat khawatir. Beberapa sahabat mencoba untuk bertanya, tapi ia selalu mengelak. Hingga pada suatu kesempatan Rasulullah SAW bertanya, " Wahai Tsauban, apa yang menyebabkan kamu seperti ini. Apakah kamu sakit?"

"Tidak, ya Rasulullah. Saya sesungguhnya tidak sakit. Tubuh ini lemah karena senantiasa memikirkanmu. Karena cinta yang tak tertahankan. Saya mencintaimu, ya Habiballah. Cinta yang melebihi cinta pada diri dan anak sendiri. Saat malam tiba dan saya ada di rumah, saya tidak sabar menanti subuh untuk segera bertemu dengamu. Tidak bertemu denganmu sekejap saja, saya dirundung rasa rindu," ungkap Tsauban.

"Kalo begitu, datanglah saat engkau merasa rindu."

"Ya Rasulullah, di sini saya mudah saja menemuimu. Sholat dibelakangmu, hadir dalam majlismu. Rindu saya akan terobati. Kapanmu saya ingin bertemu denganmu, engkau akan membukakan pintu. Namun, ketika saya mengingat akhirat, saya takut ya, Habiballah. Saya takut tidak dapat melihatmu disana. Saya sadar, engkau pasti akan ditempatkan di surga tertinggi yang diperuntukkan bagi para nabi. Sedangkan saya? Saya Tsauban... Jika saya masuk surga, saya takut tidak dapat melihatmu karena berbeda surga denganmu. Jika saya masuk neraka, saya sangat takut karena tidak dapat melihatmu untuk selama-lamanya."

Karena memikirkan hal ini, Tsauban tidak dapat tidur sepanjang malam, makanan dan minuman terasa hambar. Nafsu makannya hilang. Air matanya terus mengalir karena takut tidak dapat bersama kekasih Allah SWT di akhirat kelak. Baginya, surga dengan berbagai kenikmatan didalamnya tidak berarti jika tidak dapat melihat wajahnya. Wajah Rasulullah SAW... Wajah lelaki terbaik sepanjang masa. Wajah yang senantiasa memancarkan ketenangan bagi yang menatapnya. 

Rasulullah SAW terdiam, tidak menjawab sedikit pun hingga turunlah ayat ini (An-Nisa: 69),

"Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-(Nya) mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para Siddiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”



Lalu Rasulullah bersabda, "Engkau bersamaku di surga, Insya Allah."

Subhanallah, beginilah seharusnya pecinta. Ia hanya ingin bersama. Ya, bersama. Bersama dengan yang ia cinta. Bahkan surga pun akan terasa hambar saat kebersamaan itu tidak ada. 

Lihatlah bagaimana pasangan suami istri itu memaknai surga dalam rumahnya. Apakah karena rumahnya yang mewah? Suami yang tampan dan perkasa? Atau istrinya yang cantik jelita? Makanan yang melimpah? Cukupkah itu semua? Akankah itu semua menjadi surga jika kekasih belahan jika tidak ada di rumah? Akankah itu semua menjadi surga jika kita tidak dapat melihat wajah dan mendengar suaranya?

Lihatlah bagaimana pasangan yang baru kehilangan suami atau istri yang ia cinta. Saat belahan jiwa tidak lagi bersama. Air matanya tumpah ruah.

Beginilah seharusnya, pecinta. Surganya bukan karena harta, wajah, apalagi pujian-pujian romantika yang terkadang membuatnya lupa dengan Sang Pencipta. 

Ah, saya begitu cemburu pada Tsauban ra. Ia pernah bersama dengan lelaki yang begitu mulia, lelaki terbaik sepanjang masa. Menatap wajahnya, mencium tangannya, merasakan pancaran ketenangan dalam dirinya, tidak hanya di dunia tapi hingga ke langit sana. Sedangkan saya? Saya hanya mendengar dan membaca dari buku-buku yang menceritakan tentangnya, tentang cintanya, tentang pecintanya.

Awal tahun lalu, di depan pusaramu. Air mata itu tidak dapat lagi dibendung. Saya biarkan ia pecah, memohon pertemuan denganmu ya, Habiballah. Saya ingin menatap wajahmu. Sebentar saja... sebentar saja. Agar dapat kurasakan cinta sebagaimana Tsauban mencintaimu. Cinta yang mengantarkan pencinta bersama dengan yang ia cinta, selamanya, hingga ke surga.


*Jumu'ah mubarakah, 18 Rabiul awal 1436 H  Dua pekan setelah kajian bersama Ustz. Halimah @ Masjid BI


Kamis, 23 Oktober 2014

Dilangit yang sama



Dilangit yang sama...
Kami mencoba melepaskan kebanggaan duniawi
Memohon ampun atas dosa-dosa yang selama ini telah menyimpangkan jutaan kilometer jarak dari Sang Ilahi
Memohon ampun atas dosa-dosa yang telah berkarat mengotori hati
Dilangit yang sama...
Kami tidak rela membiarkan sedetik pun hari yang diistimewakan ini
Mencoba berserasi dengan frekuensi Ilahiyah
Dilangit yang sama...
Jutaan milyar malaikat menyirami berkat
Pada jiwa yang menggetarkan bibir, melepaskan dzikir
Dilangit yang sama...
Kami berharap panas terik matahari tidak mempengaruhi percakapan kami dengan Sang Pengatur Mahatari
Mengingat pesan Nabi, bahwa diantara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari ini
Bahwa sebaik-baik do’a adalah hari ini
Dilangit yang sama...
Kau di Arafah, aku di Jakarta

*Jumu’ah mubarakah, 9 Dzulhijjah 1435 H

Wakil rakyat yang katanya…...



Wakil rakyat yang katanya terhormat
Tidak bisakah Anda menyampaikan pendapat dengan beradab?
Tanpa jari telunjuk yang Anda angkat
Atau semua jari yang Anda gunakan untuk memijat
Wakil rakyat yang katanya amanat
Janganlah bersikap seperti kanak-kanak
Berteriak-teriak hingga serak
Seolah-olah kami tak melihat
Wakil rakyat yang katanya memikat
Kami menyaksikanmu dari layar kotak
Tidurmu dalam sidang rakyat
Atau rusuhmu dalam menyampaikan pendapat
Wakil rakyat yang katanya pintar bermartabat
Kami tertawa dalam sekat
Menyaksikan para pelawak belajar berpolitik
Dan politikus belajar menjadi pelawak
Wakil rakyat yang katanya bukan pelawak
Semalam kami terperanjat
Menahan tawa tapi Anda sangat kocak
Menghilangkan palu sidang karena perbedaan pendapat
Wakil rakyat yang katanya terhormat
Salam hormat dari kami
Semoga kelak Anda tidak terpilih lagi
Terima kasih

*2 Oktober 2014
Pasca tragedi hilangnya palu pimpinan sidang

Kamis, 21 Februari 2013

Rasa yang Seharusnya Belum Ada  

"Saya diminta menyediakan secangkir teh untuknya di ruang tamu, itulah pertama kali kita bertemu. Dan nyyesshh, saya ngerasa falling in love," ungkap Rena (*bukan nama sebenarnya. Gila aja klo pake nama beneran. Bisa dipentung pake martil dah...).

Rena sedang  ta'aruf (saling mengenal menuju  pernikahan) dengan seorang ikhwan* kala itu. (*Ya iyalah... masa ama akhwat* !?#^). Sebelumnya mereka belum pernah bertemu. Sebagaimana pada umumnya proses ta'aruf, diawali dengan pertukaran biodata. Jika tidak ada kendala, berlanjut pada pertemuan untuk saling mengenal lebih jauh,  tentang pribadi masing-masing, keluarga, pekerjaan, visi dan misi pernikahan dsb yang kira-kira perlu untuk ditanyakan. Untuk beberapa orang, proses tersebut cukup satu kali pertemuan dan beberapa yang lain bisa dua kali, tiga kali atau sepuluh kali (*ada gitu yang ampe 10x? Ckckckck...)

"Setelah saya memberikan secangkir teh, saya memutuskan untuk tetap duduk di ruang tamu. Dia datang bersama temannya, dan saya ditemani mama.  Beberapakali saya melihat wajahnya, Chi... Speechless! Jadi enggak konsen dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan lupa dengan pertanyaan-pertanyaan yang mesti saya ajukan," cerita Rena, wajahnya terlihat kemerah-merahan.

Sesaat saya berpikir, kenapa ini orang sebegitu tsiqoh-nya (percaya) bercerita tentang hal se -privacy ini pada saya? Tidakkah ia berpikir bahwa sewaktu-waktu saya bisa menulisnya diblog? (*Oh, iya. Saya lupa, klo ia tidak tahu bahwa saya punya blog, he he he...). Atau mungkin kini saya tidak segarang dulu, yang bisa ceramah abis saat ada akhwat berani cerita tentang kesukaannya pada pria yang jelas-jelas belum muhrimnya? Entahlah...

"Sekitar tiga jam kita saling bertukar informasi, tapi kok saya ngerasa masih butuh informasi lebih, ya? Dan diakhir pertemuan, kita dipersilahkan untuk mengadakan pertemuan kembali jika memang masih ada yang perlu digali. Dah gitu, ikhwannya minta no. hp, Chiaaa..., so sweet g sih... " ungkap Rena yang segera saya potong, "Terus, kamu kasih?"

"Iya, emang kenapa?" ekspresi Rena pun langsung berubah.
"Untuk apa tukeran no. hp? Kan sudah dipersilahkan klo ada informasi yang masih perlu digali silahkan adakan pertemuan lagi. Bukankah itu lebih ahsan (baik), karena akan ditemani dengan perantara? Terkait komunkasi lebih lanjut kan bisa hubungi perantara?" jawab saya. Lebih tepatnya menjawab pertanyaan dengan pertanyaan :p

Beberapa hari kemudian. "Chia... ikhwannya sms. Dia tanya tentang kegiatan Rena setelah pulang kerja," cerita Rena menggebu-gebu.

"Kamu balas?" tanya saya rada malas sebenarnya. (*semoga bukan jealous ya, wkwkwk...) 

"Iya. Rena bales ampe 5 message, diceritain aja mandi setelah pulang kerja, terus ngisi TPA, bla... bla... bla..."

Eit, buset dah..., celetuk saya dalam hati. "Terus, dia bales?" kepo juga saya yah :p

"Dia bales gini, 'Padat juga :p Jangan lupa jaga kesehatan ya, Ukh. :)' Chia.... Rena deg deg-an... serius Rena deg deg-an... Dia itu baik banget, perhatian, bla... bla... bla..."

Yah, penyakit dah..., celetuk lagi dalam hati. 

Beberapa bulan kemudian. Tak ada kabar, tak ada cerita... Saya pun tak ada inisiatif untuk menggali tentang kisahnya. Hingga suara tanda sms masuk pun meminta saya untuk memindahkan jari-jari di atas keyboard menuju hp yang terletak  beberapa centi meter dari mouse.

Chia... proses yang kemarin batal. Alasannya terkesan dibuat-buat deh... Marah, kecewa,, sebel, kesel, aarrgghhh... Uda beberapa hari ini Rena nangis enggak jelas, pengen cerita tapi enggak sanggup ngomongnya. Sakit chi... sakit....

Kau tau, kenapa sakitnya begitu dalam menghujam sampai ke ulu hati? Bahkan ada airmata yang keluar tanpa bisa dikendali? 

Karena ada rasa yang seharunya belum ada. Ada benih-benih yang kau biar tumbuh, padahal  belum saatnya. Ada getar yang kau biarkan berselayar dalam dada. Ada harapan yang kau taruh pada wadah yang salah. 

Sahabat, pelajarilah lebih dalam lagi. Namanya saja ta'aruf, proses untuk saling mengenal. Klo cocok ya lanjut, klo tidak ya sudah. Jadi, jangan kita jual murah kesucian jiwa untuk hal-hal yang belum pasti. Tahanlah sedemikian rupa hingga rasa itu tidak meloncat dari batasnya. hingga semuanya benar-benar pasti. Itulah sebabnya ada koridor syar'i yang harus kita taati. Agar hati ini tetap tertata rapi, hingga ketika takdir Allah SWT berkata lain, diri ini tetap tegak berdiri.

Sekali lagi, ta'aruf itu belum pasti. Maka, tetaplah jaga hati.