Kamis, 21 Februari 2013

Rasa yang Seharusnya Belum Ada  

"Saya diminta menyediakan secangkir teh untuknya di ruang tamu, itulah pertama kali kita bertemu. Dan nyyesshh, saya ngerasa falling in love," ungkap Rena (*bukan nama sebenarnya. Gila aja klo pake nama beneran. Bisa dipentung pake martil dah...).

Rena sedang  ta'aruf (saling mengenal menuju  pernikahan) dengan seorang ikhwan* kala itu. (*Ya iyalah... masa ama akhwat* !?#^). Sebelumnya mereka belum pernah bertemu. Sebagaimana pada umumnya proses ta'aruf, diawali dengan pertukaran biodata. Jika tidak ada kendala, berlanjut pada pertemuan untuk saling mengenal lebih jauh,  tentang pribadi masing-masing, keluarga, pekerjaan, visi dan misi pernikahan dsb yang kira-kira perlu untuk ditanyakan. Untuk beberapa orang, proses tersebut cukup satu kali pertemuan dan beberapa yang lain bisa dua kali, tiga kali atau sepuluh kali (*ada gitu yang ampe 10x? Ckckckck...)

"Setelah saya memberikan secangkir teh, saya memutuskan untuk tetap duduk di ruang tamu. Dia datang bersama temannya, dan saya ditemani mama.  Beberapakali saya melihat wajahnya, Chi... Speechless! Jadi enggak konsen dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan lupa dengan pertanyaan-pertanyaan yang mesti saya ajukan," cerita Rena, wajahnya terlihat kemerah-merahan.

Sesaat saya berpikir, kenapa ini orang sebegitu tsiqoh-nya (percaya) bercerita tentang hal se -privacy ini pada saya? Tidakkah ia berpikir bahwa sewaktu-waktu saya bisa menulisnya diblog? (*Oh, iya. Saya lupa, klo ia tidak tahu bahwa saya punya blog, he he he...). Atau mungkin kini saya tidak segarang dulu, yang bisa ceramah abis saat ada akhwat berani cerita tentang kesukaannya pada pria yang jelas-jelas belum muhrimnya? Entahlah...

"Sekitar tiga jam kita saling bertukar informasi, tapi kok saya ngerasa masih butuh informasi lebih, ya? Dan diakhir pertemuan, kita dipersilahkan untuk mengadakan pertemuan kembali jika memang masih ada yang perlu digali. Dah gitu, ikhwannya minta no. hp, Chiaaa..., so sweet g sih... " ungkap Rena yang segera saya potong, "Terus, kamu kasih?"

"Iya, emang kenapa?" ekspresi Rena pun langsung berubah.
"Untuk apa tukeran no. hp? Kan sudah dipersilahkan klo ada informasi yang masih perlu digali silahkan adakan pertemuan lagi. Bukankah itu lebih ahsan (baik), karena akan ditemani dengan perantara? Terkait komunkasi lebih lanjut kan bisa hubungi perantara?" jawab saya. Lebih tepatnya menjawab pertanyaan dengan pertanyaan :p

Beberapa hari kemudian. "Chia... ikhwannya sms. Dia tanya tentang kegiatan Rena setelah pulang kerja," cerita Rena menggebu-gebu.

"Kamu balas?" tanya saya rada malas sebenarnya. (*semoga bukan jealous ya, wkwkwk...) 

"Iya. Rena bales ampe 5 message, diceritain aja mandi setelah pulang kerja, terus ngisi TPA, bla... bla... bla..."

Eit, buset dah..., celetuk saya dalam hati. "Terus, dia bales?" kepo juga saya yah :p

"Dia bales gini, 'Padat juga :p Jangan lupa jaga kesehatan ya, Ukh. :)' Chia.... Rena deg deg-an... serius Rena deg deg-an... Dia itu baik banget, perhatian, bla... bla... bla..."

Yah, penyakit dah..., celetuk lagi dalam hati. 

Beberapa bulan kemudian. Tak ada kabar, tak ada cerita... Saya pun tak ada inisiatif untuk menggali tentang kisahnya. Hingga suara tanda sms masuk pun meminta saya untuk memindahkan jari-jari di atas keyboard menuju hp yang terletak  beberapa centi meter dari mouse.

Chia... proses yang kemarin batal. Alasannya terkesan dibuat-buat deh... Marah, kecewa,, sebel, kesel, aarrgghhh... Uda beberapa hari ini Rena nangis enggak jelas, pengen cerita tapi enggak sanggup ngomongnya. Sakit chi... sakit....

Kau tau, kenapa sakitnya begitu dalam menghujam sampai ke ulu hati? Bahkan ada airmata yang keluar tanpa bisa dikendali? 

Karena ada rasa yang seharunya belum ada. Ada benih-benih yang kau biar tumbuh, padahal  belum saatnya. Ada getar yang kau biarkan berselayar dalam dada. Ada harapan yang kau taruh pada wadah yang salah. 

Sahabat, pelajarilah lebih dalam lagi. Namanya saja ta'aruf, proses untuk saling mengenal. Klo cocok ya lanjut, klo tidak ya sudah. Jadi, jangan kita jual murah kesucian jiwa untuk hal-hal yang belum pasti. Tahanlah sedemikian rupa hingga rasa itu tidak meloncat dari batasnya. hingga semuanya benar-benar pasti. Itulah sebabnya ada koridor syar'i yang harus kita taati. Agar hati ini tetap tertata rapi, hingga ketika takdir Allah SWT berkata lain, diri ini tetap tegak berdiri.

Sekali lagi, ta'aruf itu belum pasti. Maka, tetaplah jaga hati.

Selasa, 19 Februari 2013

Jilbabku...

Piranti Hati yang Retak, sebuah cerpen garapan Helvy Tiana Rosa yang disodorkan kakak mentor saat SMP dulu telah mengubah sudut pandang saya tentang jilbab. Pandangan saya saat itu, jilbab adalah pakaian wajib para siswi madrasah atau aliyah, pakaian kebesaran para ustadzah, dan para perempuan yang menanjak tua. Setelah saya bergabung dalam ekstrakuler Rohis (Rohani Islam), pandangan saya mulai berubah. Dari sanalah saya mengetahui bahwa muslimah yang baik itu adalah muslimah yang berjilbab. Sekedar tahu.Ya, sekedar tahu, tidak ada getaran atau gerakan hati yang lebih. Cukup tahu saja... 

Dalam cerpen tersebut ada dialog antara Mia (tokoh utama) dengan papanya yang saya garis bawahi.
“Kalau dilarang, itu tandanya Papa masih sayang. Jangan malu-maluin Papa. Bagaimana nanti dengan masa depan kamu, mau kerja dimana? Pesantren? Mau nikah sama siapa? Guru ngaji yang di kampung-kampung?”

"Papa kok sinis gitu..., banyak kok muslimah berjilbab jadi usahawati, nikah dengan insinyur atau dokter… Kan semua ditangan Allah. Nikah dengan guru ngaji di kampung, bagi Mia nggak apa, yang penting dia bisa ngajak ke syurga…”

Eits, yang saya garis bawahi bukan nikahnya ya, tapi syurga. Ya, syurga...

Sebegitu keukeuhnya Mia ingin berjilbab, walau ia harus menghadapi kemarahan orang tuanya sendiri. Tanggapan orang-orang tentang masa depan para jilbaber yang suram, jodoh yang mungkin kurang menghasilkan. Baginya tak masalah, asalkan semua itu bisa mengantarkannya ke syurga. Tempat dimana semua wanita menjadi bidadari yang cantik jelita, dimana saat semua kenikmatan didunia ini dikumpulkan maka tidak akan pernah menyamai kenikmatan syurga..., tidak akan pernah! Hati saya pun mulai tergetar....

Saat keputrian, kakak mentor membacakan sebuah hadist. Rasulullah SAW bersabda, "Ada dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat. Pertama, orang -orang yang membawa cemeti seperti ekor sapi yang mereka pergunakan untuk memukul orang lain. Kedua, wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, cenderung tidak taat, berjalan melenggak lenggok, rambut mereka seperti pucuk onta, mereka tidak akan masuk syurga dan tidak akan mencium bau syurga padahal bau syurga tercium dari jarak sekian." (HR. Muslim)

What? Nyium aja g? Hati saya semakin tergetar...

Semakin sering mengikuti kegiatan Rohis dan menghadiri mentoring keputrian, semakin sering hati saya bertengkar.

Putih   : "Tuh, apa kamu enggak malu pake jilbab pas ngaji doang?"
Hitam  : "Biarinlah nama juga lagi belajar..."
Putih   : "Masih inget enggak waktu kakak mentor kemarin bilang? Enggak bisa nyium bau syurga lho... Katanya mau masuk syurga..."
Hitam  : "Nanggung kali klo kamu pake sekarang. Uda kelas 3, bentar lagi juga  SMA. Buang-buang uang aja beli baju seragam baru, paling cuma beberapa kali doang dipakenya."
Putih   : "Lha... kan baju putihnya masih bisa dipake untuk SMA, paling beli rok biru doang. Kan ada celengan, cukup kok klo mau dipecahin mah."
Hitam  : "Uda entar aja pas SMA, nanggung."

Aaarrrghhh.......

Menjelang kelulusan atau lebih tepatnya beberapa hari sebelum foto untuk ijazah SMP, saya mengutarakan niat untuk segera mengenakan jilbab. Saat itu kakak mentor pun bertanya, (mungkin maksudnya nguji kali ya. Sotoy :D), "Engga nanggung pake sekarang?"
"Enggak, kak. Sebentar lagi kan foto ijazah. Saya enggak mau nanti foto dalam kondisi tidak menutup aurat, foto itu akan dilihat semua orang yang melihat ijazah saya. Meski saat SMA saya sudah pake jilbab, tapi mereka bisa melihat foto SMP saya yang tidak berjilbab. Saya malu...." 

Ya... saya malu saat mendahukukan kata nanggung dibandingkan mengikuti perintah Allah SWT. Saya malu pada syurga, tempat dimana saya kelak akan bercanda ria disana...


NB: Jazakillah khair untuk Noey... yang telah memberikan baju seragamnya untuk saya. Dan ahlan wa sahlan untuk teman-teman yang memutuskan untuk berjilbab.  Love u all coz Allah SWT :)

Senin, 15 Oktober 2012

REVIEW
 Apa Bentuk Komitmen Saya Kepada Islam
Karya : Dr. Fathi Yakan



Menjadi muslim yang baik tidak cukup hanya dengan mengandalkan faktor keturunan, identitas, atau penampilan luar. Untuk menjadi muslim yang sejati, kita harus memilih, berkomitmen, dan berinteraksi dengan Islam dalam segenap aspek kehidupan.

Berikut ini saya jabarkan secara ringkas, sifat-sifat yang paling signifikan yang harus dimiliki oleh setiap muslim agar pilihannya menjadi seorang muslim menjadi benar dan tulus.

1. BENTUK KOMITMEN SEORANG MUSLIM
Mengislamkan Aqidah 
Syarat pertama dalam berkomitmen kepada Islam adalah : Aqidah seorang muslim harus lurus, jelas, dan benar, sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw. Oleh karena itu dapat mengislamkan aqidah, maka wajib bagi seorang muslim untuk :
  1. Mengimani bahwa pencipta alam semesta ini adalah Ilah yang Maha kuasa. Hal ini terbukti dengan bergeraknya alam ini dengan sistem yang sangat baik, teliti, dan harmonis. (QS. Al-Anbiya’ : 22)
  2. Mengimani bahwa Al-Kholiq menciptakan alam semesta ini secara main-main atau tanpa tujuan, karena Allah swt adalah Dzat yang Maha sempurna. (QS. Al-Mu’minun : 115-116)
  3. Mengimani bahwa Allah swt telah mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab suci sebagai sarana agar manusia mengenal-Nya. (QS. An-Nahl : 36)
  4. Mengimani bahwa tujuan diciptakannya manusia adalah untuk mengenal dan mengabdi pada Allah swt. (QS. Adz-Dzariyat : 56-58)
  5. Mengimani bahwa balasan bagi mu’min yang taat adalah jannah dan orang kafir adalah neraka. (QS. Asy-Syura : 7)
  6. Beriman bahwa manusia melakukan amal yang baik atau buruk dengan pilihan dan kehendaknya sendiri. (QS. Asy-Syams : 7-10).
  7. Mengimani bahwa pembuat hukum hanyalah hak Allah yang tidak boleh dilangkahi, dan seorang muslim boleh berijtihad yang disyari’atkan oleh Allah. (Q.S. Asy-Syura : 10)
  8. Mengetahui nama-nama dan sifat-sifat Allah swt yang sesuai dengan kebesaran-Nya.
  9. Merenungkan ciptaan Allah dan bukan Dzat-Nya.
  10. Meyakini bahwa kesempurnaan Allah swt yang tidak ada habis-habis dan hakikatnya tidak bisa diukur oleh kemampuan akal manusia.
  11.  Meyakini bahwa pendapat salaf lebih utama diikuti untuk menutup peluang ta’wil dan ta’thil (nafikan sifat-sifat Allah swt) serta menyerahkan makna hakiki dari nama dan sifat Allah itu hanya kepada-Nya. Mengabdi kepada Allah dengan tidak menyekutukanNya.
  12. Harus menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya. (QS. An-Nhal : 36)
  13. Hanya takut kepada Allah swt dan tidak pernah takut kepada selain-Nya. (QS. An-Nur :52)
  14. Berdzikir kepada-Nya (QS. Ar-Ra’d : 28])
  15. Mencintai Allah swt sampai hati seorang muslim dikuasai oleh-Nya dan terkait erat dengan-Nya sehinggan mendorong ia lebih baik dan rela berkorban di jalan-Nya. (QS. At-Taubah : 24)
  16. Bertawakkal kepada Allah dalam segala urusan. (QS. At-Thalaq : 3)
  17. Bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya yang tak terhitung. (QS. An-Nahl : 78, Yasin : 33-35, Ibrahim : 7)
  18. Beristighfar kepada-Nya, karena dapat memperbaharui taubat, iman, dan menghapus dosa. (QS. An-Nisa’ :110, Ali-Imran : 135)
  19. Menyadari bahwa diri selalu diawasi oleh-Nya.. (Q.S. Al-Mujadilah : 7)
Mengislamkan Ibadah 
Ibadah merupakan anak tangga yang menghubungkan makhluk dengan penciptanya. Untuk menjadi muslim sejati dalam beribadah, ada beberapa tuntutan yang harus dipenuhi :
1.         Menjadikan ibadah dengan penuh hikmah dan tersambung dengan Allah swt
2.         Menjadikan ibadah dengan khusyu
3.         Beribadah dengan hati yang penuh kesadaran dan menjauhkan pikiran tentang kesibukan dunia dan problematika yang ada di sekitarnya.
4.         Tidak pernah merasa puas dan kenyang dalam beribadah
5.         Berusaha untuk mengerjakan shakt tahajjud dan melatih diri untuk konsisten dalam pelaksanaannya. (QS. Al-Muzzammil : 6, Adz-Dzariyat 17-18, As-Sajadah : 16)
6.         Mempunyai waktu khusus untuk mengkaji dan merenungkan Al-Qur’an terutama di waktu subuh (QS. Al-Isra’ : 78)
7.         Menjadikan do’a sebagai mi’roj kepada Allah dalam setiap urusan, karena do’a adalah intisari ibadah.

Mengislamkan Akhlak
Akhlak mulia adalah bukti dan buah dari keimanan yang benar. Iman tidak berarti apa-apa jika tidak melahirkan akhlak. Ada beberapa sifat penting yang harus dimiliki oleh seorang muslim sejati dalam berakhlak, antara lain :
1.         Bersikap wara’ dari segala hal yang syubhat
2.         Menjaga pandangan (QS. An-Nur : 30)
3.         Menjaga ucapan
4.         Malu
5.         Lapang dada dan sabar (QS Asy-Syura : 43, Al-Hijr : 85)
6.         Jujur
7.         Tawadhu’
8.         Menjauhi prasangka, ghibah, dan mencari-cari aib orang islam
9.         Murah hati dan dermawan
10.     Qudwah hasanah

Mengislamkan Rumah Tangga Dan Keluarga
Kewajiban pertama yang harus dipikul oleh seorang muslim, setelah kewajiban terhadap diri sendiri adalah bertanggung jawab atas keluarga, anak-anaknya. Untuk membentuk rumah tangga yang islami maka hal yang perlu dilakukan antara lain :
1.    Tanggung jawab atas pernikahan
·           Pernikahan yang lakukan harus karena Allah ( QS. Ali-Imran : 34)
·           Selektif dalam pilihan kepada perempuan/ pria yang akan dipersuntingnya
·           Memiih calon istri/ suami yang memiliki akhlak yang baik dan shalih/ah.Selalu berhati-hati agar tidak melanggar perintah Allah swt dalam hal ini.
2.  Tanggung jawab setelah menukah
·         Berbuat baik kepada istri dan mempergauliny dengan cara yang baik pula.
·         Hubungan suami istri tidak hanya sebatas hubungan seks dan nafsu, namun sebekum itu semua, di antara kedunya harus terbangun kesamaan pikiran, semangat dan emosi. (QS. Thahaa : 132)Semua hubungan dengan istri/suami harus senantiasa selaras dengan syariat Islam.
3. Tanggung jawab suami-istri dalam mendidik anak
Tanggung jawab mendidik anak juga harus kita islamkan agar anak memiliki mentalitas dan fikriyah yang kuat sehingga akan membentuk suatu keluarga yang islami.


2. BENTUK KOMITMEN SEORANG MUSLIM KEPADA HARAKAH ISLAMIYAH
     Mempersembahkan Hidup Untuk Islam
Berkenaan dengan ini, manusia dibagi menjadi 3          
  • Manusia yang mengabdikan hidupnya untuk dunia
  • Manusia yang hidupnya tidak jelas
  • Manusia yang menganggap kehidupan dunia sebagai bagi kehidupan akhirat
     Harakah Ismilyah : Tugas, Karakteristik, dan Bekal
Tugas   Harakah Islamiyah  adalah : mengarahkan manusia agar menyembah Allah swt, baik individu maupun kelompok, melalui usaha membangun masyarakat Islami yang mengadopsi hukum-hukum dan ajaran-ajarannya dari Al-Qur’an dan sunah Rasulullah saw. Adapun Karakteristik dari Harakah  Islamiyah adalah ; Rabbaniyah, independen, modern, komprehensif, menghindari permasalahan  khilafiyah dalam fiqih. Dan bekal dari harakah Islamiyah itu sendiri adalah ; memiliki keimanan yang  sangat kuat terhadap Allah swt, manhaj, ukhwah dan balasan dari Allah swt., percaya dengan diri sendiri dan jihad.

Sungguh banyak orang yang menganut Islam sebatas identitas (KTP) atau menganut karena lahir dari orang tua yang muslim. Sebenarnya, kedua model muslim di atas sama-sama tidak mengerti, apa arti keberadaannya sebagai muslim? Mereka tidak tahu konsekuensi yang harus ditanggung ketika menyatakan diri sebagai muslim. Semoga resume ini, dapat menjawab semua pertanyaan seperti di atas sekaligus menjelaskan apa yang dituntut oleh Islam dari setiap pemeluknya. Hal ini ditujukan agar keberadaannya sebagai muslim menjadi lurus dan murni sehingga ia benar-benar menjadi muslim sejati.

** Ya Rabb jadikan ikhtiar dan do'a-do'a kami menjadi sarana sebagai jembatan untuk menjadi muslim yang sebenar-benarnya muslim....



Jumat, 21 September 2012

GERGANKOKSUDU, GER ... GER ...  

Saya patut berterima kasih kepada Afifah Hifdzillah karena telah mengundang saya ke acara walimatul 'ursy-nya. Bukan karena pestanya yang wah atau makanannya yang serba ada, tapi karena undangannya mengantarkan saya pada pertemuan yang sarat hikmah. 

Ibu Asnelia Rusli dan suami (Pak Effendi) menjadikan perjalanan kami (saya dan Watita Setiyowati) penuh dengan kata subhanallah. Dari dalam mobil (*saya lupa merek-nya dan enggak penting juga sih apa merek-nya) Pak Effendi menawarkan tumpangan gratis. Dengan agak ragu, Wati pun menjawab "Kami bawa kendaraan, Pak. Terima Kasih." Saat itu, kami berencana naik mobilnya Erly Maryanti sampai depan komplek, tapi setelah dipikir-pikir rasanya akan lebih enak klo kami jalan kaki saja karena jaraknya tidak terlalu jauh.

Beberapa meter sebelum depan komplek, kami pun bertemu kembali dengan Pak Effendi yang sedang beli es krim. Kembali ia menawarkan tumpangan gratis. Kegigihannya memberikan tumpangan mengalahkan keraguan kami. Kami ragu bukan curiga akan dibawa kabur atau ...?!@#$. Tapi, karena ini pertama kali kami ke wilayah tersebut, kami hanya ingat satu rute  naik transjakarta, klo ikut numpang Bu Asnelia dan turun di tempat berbeda, bisa-bisa kita nyasar ke Madagaskar.

Setelah memasuki mobil, kami melihat beberapa bungkus rokok di jok tengah. (*Nah, tuh kan..... ?!@#$. Tenang-tenang.... klo pun diculik setidaknya berdua sama Wati.)

"Maaf, ini ada rokok bukan berarti bapak perokok." ucap Bu Asnelia, dan Pak Effendi meminta Wati untuk mengambil rokok tersebut.

"Kok, rokoknya patah-patah gini, Pak?" tanya Wati. Kali ini saya lebih banyak diam, sedang khusyu' berdoa agar tidak diculik.

"Bapak, baru terapi perokok tadi di masjid." jelas Bu Asnelia. Inilah bentuk kekompakan pasangan suami istri. Wati nanya sama Pak Effendi, Bu Asnelia yang jawab.

"Subhanallah...." jawab kami kompak! Dan kali ini saya dapat bernafas lega.

"Mereka sendiri yang patahin rokoknya, Pak? Gimana caranya?" tanya Wati.



"Iya mereka sendiri yang patahin. Kita ngobrol aja biasa. Coba Wati ama Samsiyah cari di internet Gergankoksudu!" Samsiyah. Siapa Samsiyah? Itulah nama asli saya! Walaupun sebagian besar teman-teman lebih akrab dengan nama Chia, tapi tetap sebagai perkenalan awal saya memperkenalkan nama asli. Masa saya bikin pertanyaan. Bapak mau nama asli saya atau nama panggilan? Bisa-bisa saya beneran diculik. Eits,,, fokus!

"Ger-gan-kok-su-du?"

"Gerakan Ganti Rokok dengan Susu dan Madu. Anggaplah para perokok itu menghabiskan uang untuk merokok sebulan Rp 300.000,-. Klo 5 tahun abis berapa, tuh?" tanya Pak Effendi.

"Delapan belas juta" jawab kami, seperti lomba cerdas cermat.

"Delapan belas juta, uda cukup untuk menyekolahkan anaknya. Bahkan klo dia muslim uda bisa berangkat umroh. Klo 300 ribu tsb dibelikan susu dan madu kan jadi lebih sehat, dan bisa diminum sekeluarga. Coba klo gerakan ini dipraktekan oleh sebagian besar warga Jakarta saja, maka tingkat permintaan susu akan meningkat, bisa jadi kita uda enggak perlu lagi impor sapi, karena sapi sudah menjadi komoditi, dan bagi pecinta rendang, berbahagialah karena harga rendang akan murah. Begitu juga dengan peternak lebah... Lalu bagaimana dengan para pekerja di pabrik rokok, bisa di PHK dong? Enggak... sama sekali enggak! Mereka bisa beralih menjadi peternak sapi atau peternak lebah."

Kami mengangguk-anggukkan kepala dan kembali mengucapkan, "Subhanallah..."


Gerakan Menyebarkan Salam 

Saya lupa nama gerakannya apa, tapi kurang lebih ya seperti di atas. Pasangan suami istri ini memiliki kebiasaan yang sebenarnya biasa kita lakukan, tapi ia melakukannya dengan hati, bukan sekedar basa-basi. Saya bisa merasakan itu.

Ditengah perjalanan hendak memasuki tol, Pak Effendi menyapa ramah penjaga tol dengan salam yang menggema, "Assalamu'alaikum. Sehat, Mas?"

"Sehat Pak," jawabnya dengan tatapan terima kasih, mungkin hatinya bertanya-tanya nih bapak perhatian amat.

"Ngerokok gak, Mas?

"Enggak, Pak."

"Alhamdulillah, semoga selamanya ya, Mas..."

"Aamiin."

"Terima Kasih, Mas. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam" jawabnya kikuk. Saya, Wati dan Bu Asnelia tersenyum, karena nama petugas tersebut mengindikasikan seorang non muslim. Eits... Don't judge the book from the cover. Emang dia buku? Sudahlah...

"Lho, kenapa? Menebarkan salam itu kan ibadah kepada siapa saja. Mungkin namanya ... Masa kita tanya dulu, 'Mas agamanya apa?' Nah, klo muslim baru kasih salam? Rasulullah enggak nyontohin gitu. Coba kita perhatikan artinya. Semoga kedamaian dilimpahkan kepadamu diiringi dengan rahmat dari Allah dan juga barakah dari Allah untukmu. Bayangin klo setiap orang yang mau masuk tol menyapanya dengan salam, dan kendaraan yang masuk 1000/hari. Apa yang terjadi, Sam?"

"Orang tersebut mendapatkan 1000 kedamaian, 1000 rahmat dari 1000 barakah dari Allah Swt. Subhanallah...."

Kami tersenyum kembali. Pak Effendi berkata dengan candanya, "Kita sih ngasih salamnya sekali, dia jawabnya berkali karena setiap orang masuk tol ngasih salam, wa'alaikumsalam...   wa'alaikumsalam...   wa'alaikumsalam...   bisa-bisa salah ngasih kembalian." Tawa kami pun pecah.


Percakapan kami terus berlanjut hingga Pak Effendi benar-benar mengantarkan Wati ke stasiun menuju Depok. Beberapa meter dari stasiun, ada seorang pengemis paruh baya yang menggendong anak. Bu Asnelia meraih dompet dan mengambil selembar uang yang segera Pak Effendi berikan ke pengemis tsb diringi dengan salamnya yang khas. Setelah itu suasana hening, saya perhatikan ada sebait do'a yang dipanjatkan oleh Pak Effendi untuk pengemis tsb. Saya tak cukup mendengar do'anya, tapi hati saya cukup tergetar. Kembali saya dibuatkan kagum. Subhanallah....

Setelah mengantarkan Wati ke stasiun, giliran saya diantarkan Pak Effendi menuju shelter tranjakarta di pulomas. Di tengah perjalanan, Bu Asnelia membuka jendela mobil dan Pak Effendi menyapa keluarga kecil (suami, istri dan dua anak) yang sedang berjalan tersebut.

"Assalamu'alaikum, Pak"

"Wa'alaikumsalam...." jawab pria tersebut. Ia kira bapak ini akan menanyakan alamat.

"Mau kemana, Pak?"

"ke ...." (*saya lupa arah tujuannya, karena tidak fokus. Hati saya bertanya-tanya kenapa Pak Effendi menyapa ramah orang tsb. Ia tidak tahu arah menuju by pass kah? Atau bapak ini saudaranya kah?)

"Hati-hati di jalan, Pak. Oh ya, itu ngerokok jangan dideket anak istri, kasian!" Nah, disini saya countdown 10,9,8,7..., akankah pria tersebut marah dan menonjok Pak Effendi?

"Oh, iya. Terima kasih, Pak!" Pria tersebut segera membuang rokok tsb dan menginjaknya. Pak Effendi pun segera mengucapkan salam dan menginjak gas. Bush,,,

Ilmu apa yang digunakan Pak Effendi? Komunikasi efektif? Hipnotis? Ah, saya yakin tidak! Banyak gerakan yang ia canangkan dari Gergankoksudu, gerakan memberi salam, gerakan memilah sampah plastik dan kertas, gerbangbuhnas(Gerakan Bangun Subuh Nasional), dan ger... ger... ger... lainnya.


Sejak pertemuan itu, saya sulit melupakan sosoknya. Bukan karena ia telah memberikan saya tumpangan gratis. Tapi karena tausiyah, dan sikapnya yang ramah. Ya, tausiyahnya. Saya dan Wati mendapatkan siraman rohani, free! Dan menyaksikan dengan kepala kami sendiri bagaimana ia menyampaikan salam dari hati, caranya menolong pengemis dengan mengemiskan hati dihadapan sang pemilik bumi, menegur perokok tanpa kesan menggurui, caranya menolong kami, dan caranya menolong bangsa ini. Dari gerakan ke gerakan ia canangakan. Dari hati ke hati ia sampaikan salam. Prinsipnya do it (*helping people), anytime, anywhere. 


Sesaat sebelum saya pamit turun, Pak Effendi mengatakan bahwa ia seperti orang gila dalam memberikan terapi pada perokok. Sepuluh perokok dalam sehari berhasil ia sembuhkan, tapi seratus orang siap menjadi perokok dalam sehari. Tapi kita tidak boleh putus asa, bukankah Allah swt telah berfirman, "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." (At-Taubah: 105).

Ya, Rabb... terima kasih. Terima kasih karena Kau telah mempertemukan kami pada pertemuan yang sarat hikmah. Terima kasih karena Kau telah mempertemukan kami dengan makhluk-Mu yang luar biasa. Terima kasih karena Kau telah menegur kami dengan indah. Terima kasih...



Rabu, 29 Agustus 2012

Warna-Warni "Rumah Buku"

Putih, perlahan-lahan hadirlah biru
Masih malu-malu untuk menunjukan diri
Siapa namamu? Dari mana asalmu?
Boleh kuminta nomor hpmu?

Kuning pun bingung
Ia  butuh warna biru, agar hijau
Makan di mana kita hari ini?
Kantin ? Talang?

Merah mulai bergabung
Keceriaannya, membuat suasana kaku menjadi rusuh
Bercerita tentang awal ia bertamu
Kenapa masuk “Rumah Buku” ?
Apa yang menarik ?

Warna-warni bertemu
Saling berkisah tentang “Rumah Buku”
Tak mengenal tempat dan waktu
Di mushola hingga penuh
Di kantin lupa waktu

Ada kalanya kelabu bertamu
Mencoba mengaburkan warna yang telah diramu
Tak apalah
Perpaduan ini akan menjadi lebih seru

Ketika warna-warni bertemu
Berbaur, namun tidak melebur
Melangkah jembatan lengkung sempurna
Indah
Seperti pelangi yang menghiasi senja
Semoga tidak sementara…

 Jadi kita tetap punya PILIHAN

 

Pilihan adalah sebuah kata kunci. Begitu menyadari bahwa kita punya pilihan, kita akan berubah dari objek menjadi subjek. Dalam sebuah percakapan misalnya, “Saya harus pergi” coba katakan, “Saya mau pergi” atau “Saya memilih untuk pergi”, kita akan berubah dari kondisi tak berdaya (powerless) menjadi berdaya (powerful). Tak ada seorang pun yang dapat mengharuskan kita pergi. Ini adalah pilihan kita sendiri. Dengan demikian kita bukan korban, tapi kita sudah menjadi pelaku.

Banyak manusia yang menjalani hidupnya dalam ketidaksadaran. Mereka laksana robot-robot yang dikendalikan oleh orang lain. Saya jadi teringat cerita Anthony de Mello mengenai seorang petani yang suatu hari menemukan telur elang di dekat kandang ayamnya. Karena ia tidak mengetahui telur apa yang sedang dipegangnya, petani tersebut menempatkan terlur tersebut bersama telur ayam yang sedang dierami induknya. Setelah menetas, elang itu hidup dan berperilaku persis sama seperti anak ayam, karena ia mengira bahwa dirinya memang anak ayam.

Pada suatu hari, ia melihat seekor elang yang dengan gagah terbang mengarungi angkasa. “Wow, luar bisa! Siapa itu?” katanya penuh kekaguman. “Itulah elang, raja segala burung!” sahut ayam-ayam di sekitarnya. “Kalau saja kita bisa terbang ya? Luar biasa!” kata si elang kecil. “Ah, jangan mimpi,” kata kawan-kawannya. “Dia adalah makhluk angkasa, sedang kita hanya makhluk bumi. Kita hanya ayam!” Meyakini dirinya hanya ayam, elang itu makan, minum, menjalani hidup dan akhirnya mati sebagai seekor ayam.

Inilah perumpamaan manusia yang terkungkung oleh paradigmanya sendiri dan tidak menyadari bahwa ia memiliki begitu banyak pilihan dalam hidup. Bahkan pada saat ia menjalani “kehidupan seperti ayam” ia sebenarnya “memilih” kehidupan semacam itu. Ia sebenarnya “memilih” untuk tidak memilih.

Sebagian dari kita mungkin akan bertanya, apa benar kita senantiasa memiliki pilihan dalam situasi apapun? Saya akan menjawab dengan sangat tegas, “YA”. Benar, bahwa ada hal-hal yang tak dapat kita ubah, ada hal-hal yang tak dapat kita control. Kita tak selalu bebas menetukan lingkungan kita, tetapi kita senantiasa bebas memilih tindakan dan respon terhadap situasi apa pun.

Kita memang tidak dapat memilih orang tua kita, dimana kita dilahirkan dan seterusnya. Tapi begitu kita sadar bahwa kita punya pilihan, kita dapat memilih mau jadi apa kita di masa depan. Masih ingat dengan kalimat salah satu iklan yang sering di tayangkan di televisi? ‘Menjadi Tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan!’

Kita juga tidak bisa mengontrol krisis ekomoni dan harga-harga yang terus membumbung tinggi, tapi kita bisa memilih cara hidup dan mengelola pengeluaran kita sendiri. Kita memang tidak bisa mengontrol keamanan, tapi kita bisa memilih untuk tidak terlalu sering keluar malam. Dan untuk para akhwat (baca: perempuan), kita memang tak dapat mengontrol kasus pemerkosaan, tapi kita bisa memilih pakaian apa yang akan kita kenakan. Jadi, kita tetap punya pilihan!

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” QS 13:11

Berhentilah Mencari Kambing Hitam



Bercermin dari perilaku sehari-hari kita. Di kantor, atasan kita bertanya, "Kenapa Anda datang terlambat?" Dengan mudah kita menjawab, "Karena jalanan macet!" Di rumah, orang tua bertanya, "Kenapa nilai kuliahnya jelek?" "Karena ujiannya suka ngedadak!" Di liqo-an, ust bertanya, "Kenapa hafalannya g namabah2?" Lagi banyak agenda yang harus segera diselesaikan, ust!" Di kosan, teman bertanya, "Kenapa kamu bermuram durja?" "Ini gara-gara orang itu yang memaki-maki saya!"

Coba simak sekali lagi bahasa yang sering kita gunakan. Kita mengalami masalah. Lantas siapa yang disalahkan? Bukan kita, tapi orang lain atau bahkan situasi yang kita salahkan: jalan macet, ujian mendadak, agenda yang padat, atau bahkan orang yang tidak kita kenal sekalipun. Perilaku demikian sebenarnya tidak beda dengan perilaku anak kecil, dan ini sebenarnya menunjukkan tingkat kedewasaan kita. Benar, sebenarnya apa yang di katakan iklan ..... (*secret, coz g dibayar =D), "Jadi Tua Itu Pasti, Jadi Dewasa Itu Pilihan!"

Salah satu tanda kedewasaan adalah bertanggung jawab terhadap apapun yang kita lakukan. Semua yang terjadi pada hidup kita pada dasarnya mencerminkan pilihan-pilihan yang kita buat sendiri. Kita mengalami kemacetan di jalan? Itu adalah pilihan, karena bukankah kita bisa berangkat lebih pagi? Nilai ujian jelek? Itu adalah pilihan, kenapa kita baru mau belajar saat ada jadwal ujian? Hafalan nggak bertambah? Itu juga pilihan, bukankah kita bisa memanajemen waktu lebih baik? Lantas kalau kita bermuram durja karena dimaki-maki orang, siapa yang bertanggung jawab? Tak lain adalah diri kita sendiri. Orang mungkin memperlakukan kita secara tidak patut, tapi kita bisa memilih untuk tidak sakit hati, bukan?

Menyalahkan orang lain untuk sesuatu yang menimpa diri kita sendiri pada dasarnya adalah menciptakan energi negatif bagi diri kita sendiri, dan itu membutuhkan energi yang besar. Kita akan kehilangan kontrol atas diri sendiri dan menjadi powerless. Kebahagiaan kita tergantung pada orang lain dan situasi yang tak dapat kita kontrol. Dan akhirnya kita menjadi korban, menjadi objek bukan subjek. Sebaliknya, bertanggung jawab adalah perilaku yang menghasilkan energi positif dan efek yang dinamis. Kita yang akan langsung memegang kontrol.

Masalah utama dalam masyarakat kita adalah kebiasaan menyalahkan orang lain. Begitu ada bom yang meledak, kita langsung mencari kambing hitamnya. Tidak puas dengan satu kambing hitam, mencari kambing hitam lain. Dan salah satu hal yang menurut saya memberikan kontirbusi terhadap sikap saling menyalahkan ini adalah pendidikan yang kita berikan kepada anak kita pada usia dini. Seorang anak yang baru belajar berjalan dan terjatuh karena menabrak meja kemudian menangis. Kadang-kadang sebagai orang tuanya seraya berusaha membujuknya, kita memukul meja dan mengatakan, "Meja ini memang nakal!" Sosialisasi seperti ini saya rasa perlu kita hindari.

Namun bertanggung jawab bukanlah berarti melimpahkan kesalahan pada diri kita sendiri. Orang-orang yang memiliki harga diri yang rendah, cenderung menyalahkan diri sendiri atas peristiwa-peristiwa buruk yang terjadi. Begitu terjadi kesulitan, mereka akan langsung menyalahkan diri mereka sendiri, bahwa mereka memang bodoh, mereka memang gagal. Dalam beberapa kejadian, yang memang merupakan kontribusi kita, hal tersebut memang wajar. Tapi menganggap diri sendiri sebagai satu-satunya penyebab kesulitan tersebut tidaklah bijaksana dan tidak pada tempatnya.

Orang yang efektif bukanlah orang yang menyalahkan orang lain, bukan juga menyalahkan dirinya sendiri! (*lha terus salah siapa donk? Ini adalah salah satu bentuk pertanyaan orang yang suka mencari kambing hitam =D). Orang yang efektif adalah orang yang bertanggung jawab. Mereka tahu persis, mana yang merupakan kesalahnnya dan mana yang merupakan kesalahan orang lain. Dalam situasi dimana ia memiliki andil terhadap kesalahan, ia tidak menyalahkan dirinya berkepanjangan, tetapi langsung mengambil tindakan untuk memperbaikinya. Dalam situasi dimana ia sama sekali tidak terlibat terhadap kesalahan, ia juga tidak membuang-buang energi untuk menyalahkan orang lain. Daripada menyalahkan ia akan langsung memberikan respon yang memperbaiki situasi.

Bertanggung jawab dan bukan saling menyalahkan adalah kebiasaan yang harus kita bangun dari sekarang! (*sepakat?). Dengan bertanggung jawab kita akan mencurahkan energi kita untuk mencari solusi, bukan menghabiskannya untuk menyerang pihak lain (*apalagi klo itu dibuat-buat =D). Sikap ini untuk saya, anda, kita, dan bangsa ini!