Jumat, 16 Januari 2015

Ribuan Tahun yang Lalu



Ribuan tahun yang lalu
Saat penduduk Thaif melemparimu batu 
Hingga lemah, bersimbah darah
Malaikat Jibril menawarkan untuk mengguncangkan gunung
Sebagai balasan atas sakitmu
Tapi engaku tidak mau

Ribuan tahun yang lalu
Saat Aisyah ra meminta didoakan olehmu
Engkau telah mendoakan kami terlebih dulu
Dalam sholat lima waktumu
Ruku' dan sujudmu hingga subuh
Ada tangis yang tak henti untuk kami
"Ya, Allah. Ampunkanlah dosa-dosa umatku," katamu.

Ribuan tahun yang lalu
Siang dan malam
Engkau risaukan keselamatan kami
Dari tipuan duniawi & kejahatan yang tidak manusiawi
Hingga kehidupan diakhirat nanti

Ribuan tahun yang lalu
Saat engkau mengatakan ingin sekali bertemu dengan saudara-saudaramu
Hingga para sahabat cemburu, "Bukankah kami ini adalah saudara-saudaramu?"
"Kalian adalah sahabatku. Saudaraku adalah umatku yang telah beriman 
tapi belum pernah melikatku."
Rindumu pada kami, diatas sahabatmu sendiri

Ribuan tahun yang lalu
Engkau memohon pada Sang Pengatur Kehidupan
Agar rasa sakit sakaratul maut yang dirasakan umatmu
dilimpahkan seluruhnya kepadamu

Ribuan tahun yang lalu
Engkau tetap mengkhawatirkan kami
Padahal engkau memiliki istri, anak dan sahabat yang engaku cintai
Tapi diakhir hayatmu, justru kami yang engkau panggil dengan lirih
Ummati... Ummati.. Ummati...

Ribuan tahun yang lalu
Engkau cintai kami hingga kini
Melebihi istri, anak, dan sahabatmu sendiri
Bahkan melebihi dirimu sendiri
Ya Rasulullah... Bagaimana kami membalas cintamu ini


*Jumu'ah Mubarokah, 25 Rabiul Awal 1436 H

Jumat, 09 Januari 2015

Beginilah Seharusnya Pecinta



Tsauban, seorang hamba sahaya (budak yang dibebaskan oleh Rasulullah SAW). Tubuhnya kurus, semakin hari  semakin kurus dan pucat, wajahnya menandakan kesedihan yang mendalam. Kondisinya membuat para sahabat khawatir. Beberapa sahabat mencoba untuk bertanya, tapi ia selalu mengelak. Hingga pada suatu kesempatan Rasulullah SAW bertanya, " Wahai Tsauban, apa yang menyebabkan kamu seperti ini. Apakah kamu sakit?"

"Tidak, ya Rasulullah. Saya sesungguhnya tidak sakit. Tubuh ini lemah karena senantiasa memikirkanmu. Karena cinta yang tak tertahankan. Saya mencintaimu, ya Habiballah. Cinta yang melebihi cinta pada diri dan anak sendiri. Saat malam tiba dan saya ada di rumah, saya tidak sabar menanti subuh untuk segera bertemu dengamu. Tidak bertemu denganmu sekejap saja, saya dirundung rasa rindu," ungkap Tsauban.

"Kalo begitu, datanglah saat engkau merasa rindu."

"Ya Rasulullah, di sini saya mudah saja menemuimu. Sholat dibelakangmu, hadir dalam majlismu. Rindu saya akan terobati. Kapanmu saya ingin bertemu denganmu, engkau akan membukakan pintu. Namun, ketika saya mengingat akhirat, saya takut ya, Habiballah. Saya takut tidak dapat melihatmu disana. Saya sadar, engkau pasti akan ditempatkan di surga tertinggi yang diperuntukkan bagi para nabi. Sedangkan saya? Saya Tsauban... Jika saya masuk surga, saya takut tidak dapat melihatmu karena berbeda surga denganmu. Jika saya masuk neraka, saya sangat takut karena tidak dapat melihatmu untuk selama-lamanya."

Karena memikirkan hal ini, Tsauban tidak dapat tidur sepanjang malam, makanan dan minuman terasa hambar. Nafsu makannya hilang. Air matanya terus mengalir karena takut tidak dapat bersama kekasih Allah SWT di akhirat kelak. Baginya, surga dengan berbagai kenikmatan didalamnya tidak berarti jika tidak dapat melihat wajahnya. Wajah Rasulullah SAW... Wajah lelaki terbaik sepanjang masa. Wajah yang senantiasa memancarkan ketenangan bagi yang menatapnya. 

Rasulullah SAW terdiam, tidak menjawab sedikit pun hingga turunlah ayat ini (An-Nisa: 69),

"Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-(Nya) mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para Siddiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”



Lalu Rasulullah bersabda, "Engkau bersamaku di surga, Insya Allah."

Subhanallah, beginilah seharusnya pecinta. Ia hanya ingin bersama. Ya, bersama. Bersama dengan yang ia cinta. Bahkan surga pun akan terasa hambar saat kebersamaan itu tidak ada. 

Lihatlah bagaimana pasangan suami istri itu memaknai surga dalam rumahnya. Apakah karena rumahnya yang mewah? Suami yang tampan dan perkasa? Atau istrinya yang cantik jelita? Makanan yang melimpah? Cukupkah itu semua? Akankah itu semua menjadi surga jika kekasih belahan jika tidak ada di rumah? Akankah itu semua menjadi surga jika kita tidak dapat melihat wajah dan mendengar suaranya?

Lihatlah bagaimana pasangan yang baru kehilangan suami atau istri yang ia cinta. Saat belahan jiwa tidak lagi bersama. Air matanya tumpah ruah.

Beginilah seharusnya, pecinta. Surganya bukan karena harta, wajah, apalagi pujian-pujian romantika yang terkadang membuatnya lupa dengan Sang Pencipta. 

Ah, saya begitu cemburu pada Tsauban ra. Ia pernah bersama dengan lelaki yang begitu mulia, lelaki terbaik sepanjang masa. Menatap wajahnya, mencium tangannya, merasakan pancaran ketenangan dalam dirinya, tidak hanya di dunia tapi hingga ke langit sana. Sedangkan saya? Saya hanya mendengar dan membaca dari buku-buku yang menceritakan tentangnya, tentang cintanya, tentang pecintanya.

Awal tahun lalu, di depan pusaramu. Air mata itu tidak dapat lagi dibendung. Saya biarkan ia pecah, memohon pertemuan denganmu ya, Habiballah. Saya ingin menatap wajahmu. Sebentar saja... sebentar saja. Agar dapat kurasakan cinta sebagaimana Tsauban mencintaimu. Cinta yang mengantarkan pencinta bersama dengan yang ia cinta, selamanya, hingga ke surga.


*Jumu'ah mubarakah, 18 Rabiul awal 1436 H  Dua pekan setelah kajian bersama Ustz. Halimah @ Masjid BI


Kamis, 23 Oktober 2014

Dilangit yang sama



Dilangit yang sama...
Kami mencoba melepaskan kebanggaan duniawi
Memohon ampun atas dosa-dosa yang selama ini telah menyimpangkan jutaan kilometer jarak dari Sang Ilahi
Memohon ampun atas dosa-dosa yang telah berkarat mengotori hati
Dilangit yang sama...
Kami tidak rela membiarkan sedetik pun hari yang diistimewakan ini
Mencoba berserasi dengan frekuensi Ilahiyah
Dilangit yang sama...
Jutaan milyar malaikat menyirami berkat
Pada jiwa yang menggetarkan bibir, melepaskan dzikir
Dilangit yang sama...
Kami berharap panas terik matahari tidak mempengaruhi percakapan kami dengan Sang Pengatur Mahatari
Mengingat pesan Nabi, bahwa diantara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari ini
Bahwa sebaik-baik do’a adalah hari ini
Dilangit yang sama...
Kau di Arafah, aku di Jakarta

*Jumu’ah mubarakah, 9 Dzulhijjah 1435 H

Wakil rakyat yang katanya…...



Wakil rakyat yang katanya terhormat
Tidak bisakah Anda menyampaikan pendapat dengan beradab?
Tanpa jari telunjuk yang Anda angkat
Atau semua jari yang Anda gunakan untuk memijat
Wakil rakyat yang katanya amanat
Janganlah bersikap seperti kanak-kanak
Berteriak-teriak hingga serak
Seolah-olah kami tak melihat
Wakil rakyat yang katanya memikat
Kami menyaksikanmu dari layar kotak
Tidurmu dalam sidang rakyat
Atau rusuhmu dalam menyampaikan pendapat
Wakil rakyat yang katanya pintar bermartabat
Kami tertawa dalam sekat
Menyaksikan para pelawak belajar berpolitik
Dan politikus belajar menjadi pelawak
Wakil rakyat yang katanya bukan pelawak
Semalam kami terperanjat
Menahan tawa tapi Anda sangat kocak
Menghilangkan palu sidang karena perbedaan pendapat
Wakil rakyat yang katanya terhormat
Salam hormat dari kami
Semoga kelak Anda tidak terpilih lagi
Terima kasih

*2 Oktober 2014
Pasca tragedi hilangnya palu pimpinan sidang

Kamis, 21 Februari 2013

Rasa yang Seharusnya Belum Ada  

"Saya diminta menyediakan secangkir teh untuknya di ruang tamu, itulah pertama kali kita bertemu. Dan nyyesshh, saya ngerasa falling in love," ungkap Rena (*bukan nama sebenarnya. Gila aja klo pake nama beneran. Bisa dipentung pake martil dah...).

Rena sedang  ta'aruf (saling mengenal menuju  pernikahan) dengan seorang ikhwan* kala itu. (*Ya iyalah... masa ama akhwat* !?#^). Sebelumnya mereka belum pernah bertemu. Sebagaimana pada umumnya proses ta'aruf, diawali dengan pertukaran biodata. Jika tidak ada kendala, berlanjut pada pertemuan untuk saling mengenal lebih jauh,  tentang pribadi masing-masing, keluarga, pekerjaan, visi dan misi pernikahan dsb yang kira-kira perlu untuk ditanyakan. Untuk beberapa orang, proses tersebut cukup satu kali pertemuan dan beberapa yang lain bisa dua kali, tiga kali atau sepuluh kali (*ada gitu yang ampe 10x? Ckckckck...)

"Setelah saya memberikan secangkir teh, saya memutuskan untuk tetap duduk di ruang tamu. Dia datang bersama temannya, dan saya ditemani mama.  Beberapakali saya melihat wajahnya, Chi... Speechless! Jadi enggak konsen dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan lupa dengan pertanyaan-pertanyaan yang mesti saya ajukan," cerita Rena, wajahnya terlihat kemerah-merahan.

Sesaat saya berpikir, kenapa ini orang sebegitu tsiqoh-nya (percaya) bercerita tentang hal se -privacy ini pada saya? Tidakkah ia berpikir bahwa sewaktu-waktu saya bisa menulisnya diblog? (*Oh, iya. Saya lupa, klo ia tidak tahu bahwa saya punya blog, he he he...). Atau mungkin kini saya tidak segarang dulu, yang bisa ceramah abis saat ada akhwat berani cerita tentang kesukaannya pada pria yang jelas-jelas belum muhrimnya? Entahlah...

"Sekitar tiga jam kita saling bertukar informasi, tapi kok saya ngerasa masih butuh informasi lebih, ya? Dan diakhir pertemuan, kita dipersilahkan untuk mengadakan pertemuan kembali jika memang masih ada yang perlu digali. Dah gitu, ikhwannya minta no. hp, Chiaaa..., so sweet g sih... " ungkap Rena yang segera saya potong, "Terus, kamu kasih?"

"Iya, emang kenapa?" ekspresi Rena pun langsung berubah.
"Untuk apa tukeran no. hp? Kan sudah dipersilahkan klo ada informasi yang masih perlu digali silahkan adakan pertemuan lagi. Bukankah itu lebih ahsan (baik), karena akan ditemani dengan perantara? Terkait komunkasi lebih lanjut kan bisa hubungi perantara?" jawab saya. Lebih tepatnya menjawab pertanyaan dengan pertanyaan :p

Beberapa hari kemudian. "Chia... ikhwannya sms. Dia tanya tentang kegiatan Rena setelah pulang kerja," cerita Rena menggebu-gebu.

"Kamu balas?" tanya saya rada malas sebenarnya. (*semoga bukan jealous ya, wkwkwk...) 

"Iya. Rena bales ampe 5 message, diceritain aja mandi setelah pulang kerja, terus ngisi TPA, bla... bla... bla..."

Eit, buset dah..., celetuk saya dalam hati. "Terus, dia bales?" kepo juga saya yah :p

"Dia bales gini, 'Padat juga :p Jangan lupa jaga kesehatan ya, Ukh. :)' Chia.... Rena deg deg-an... serius Rena deg deg-an... Dia itu baik banget, perhatian, bla... bla... bla..."

Yah, penyakit dah..., celetuk lagi dalam hati. 

Beberapa bulan kemudian. Tak ada kabar, tak ada cerita... Saya pun tak ada inisiatif untuk menggali tentang kisahnya. Hingga suara tanda sms masuk pun meminta saya untuk memindahkan jari-jari di atas keyboard menuju hp yang terletak  beberapa centi meter dari mouse.

Chia... proses yang kemarin batal. Alasannya terkesan dibuat-buat deh... Marah, kecewa,, sebel, kesel, aarrgghhh... Uda beberapa hari ini Rena nangis enggak jelas, pengen cerita tapi enggak sanggup ngomongnya. Sakit chi... sakit....

Kau tau, kenapa sakitnya begitu dalam menghujam sampai ke ulu hati? Bahkan ada airmata yang keluar tanpa bisa dikendali? 

Karena ada rasa yang seharunya belum ada. Ada benih-benih yang kau biar tumbuh, padahal  belum saatnya. Ada getar yang kau biarkan berselayar dalam dada. Ada harapan yang kau taruh pada wadah yang salah. 

Sahabat, pelajarilah lebih dalam lagi. Namanya saja ta'aruf, proses untuk saling mengenal. Klo cocok ya lanjut, klo tidak ya sudah. Jadi, jangan kita jual murah kesucian jiwa untuk hal-hal yang belum pasti. Tahanlah sedemikian rupa hingga rasa itu tidak meloncat dari batasnya. hingga semuanya benar-benar pasti. Itulah sebabnya ada koridor syar'i yang harus kita taati. Agar hati ini tetap tertata rapi, hingga ketika takdir Allah SWT berkata lain, diri ini tetap tegak berdiri.

Sekali lagi, ta'aruf itu belum pasti. Maka, tetaplah jaga hati.

Selasa, 19 Februari 2013

Jilbabku...

Piranti Hati yang Retak, sebuah cerpen garapan Helvy Tiana Rosa yang disodorkan kakak mentor saat SMP dulu telah mengubah sudut pandang saya tentang jilbab. Pandangan saya saat itu, jilbab adalah pakaian wajib para siswi madrasah atau aliyah, pakaian kebesaran para ustadzah, dan para perempuan yang menanjak tua. Setelah saya bergabung dalam ekstrakuler Rohis (Rohani Islam), pandangan saya mulai berubah. Dari sanalah saya mengetahui bahwa muslimah yang baik itu adalah muslimah yang berjilbab. Sekedar tahu.Ya, sekedar tahu, tidak ada getaran atau gerakan hati yang lebih. Cukup tahu saja... 

Dalam cerpen tersebut ada dialog antara Mia (tokoh utama) dengan papanya yang saya garis bawahi.
“Kalau dilarang, itu tandanya Papa masih sayang. Jangan malu-maluin Papa. Bagaimana nanti dengan masa depan kamu, mau kerja dimana? Pesantren? Mau nikah sama siapa? Guru ngaji yang di kampung-kampung?”

"Papa kok sinis gitu..., banyak kok muslimah berjilbab jadi usahawati, nikah dengan insinyur atau dokter… Kan semua ditangan Allah. Nikah dengan guru ngaji di kampung, bagi Mia nggak apa, yang penting dia bisa ngajak ke syurga…”

Eits, yang saya garis bawahi bukan nikahnya ya, tapi syurga. Ya, syurga...

Sebegitu keukeuhnya Mia ingin berjilbab, walau ia harus menghadapi kemarahan orang tuanya sendiri. Tanggapan orang-orang tentang masa depan para jilbaber yang suram, jodoh yang mungkin kurang menghasilkan. Baginya tak masalah, asalkan semua itu bisa mengantarkannya ke syurga. Tempat dimana semua wanita menjadi bidadari yang cantik jelita, dimana saat semua kenikmatan didunia ini dikumpulkan maka tidak akan pernah menyamai kenikmatan syurga..., tidak akan pernah! Hati saya pun mulai tergetar....

Saat keputrian, kakak mentor membacakan sebuah hadist. Rasulullah SAW bersabda, "Ada dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat. Pertama, orang -orang yang membawa cemeti seperti ekor sapi yang mereka pergunakan untuk memukul orang lain. Kedua, wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, cenderung tidak taat, berjalan melenggak lenggok, rambut mereka seperti pucuk onta, mereka tidak akan masuk syurga dan tidak akan mencium bau syurga padahal bau syurga tercium dari jarak sekian." (HR. Muslim)

What? Nyium aja g? Hati saya semakin tergetar...

Semakin sering mengikuti kegiatan Rohis dan menghadiri mentoring keputrian, semakin sering hati saya bertengkar.

Putih   : "Tuh, apa kamu enggak malu pake jilbab pas ngaji doang?"
Hitam  : "Biarinlah nama juga lagi belajar..."
Putih   : "Masih inget enggak waktu kakak mentor kemarin bilang? Enggak bisa nyium bau syurga lho... Katanya mau masuk syurga..."
Hitam  : "Nanggung kali klo kamu pake sekarang. Uda kelas 3, bentar lagi juga  SMA. Buang-buang uang aja beli baju seragam baru, paling cuma beberapa kali doang dipakenya."
Putih   : "Lha... kan baju putihnya masih bisa dipake untuk SMA, paling beli rok biru doang. Kan ada celengan, cukup kok klo mau dipecahin mah."
Hitam  : "Uda entar aja pas SMA, nanggung."

Aaarrrghhh.......

Menjelang kelulusan atau lebih tepatnya beberapa hari sebelum foto untuk ijazah SMP, saya mengutarakan niat untuk segera mengenakan jilbab. Saat itu kakak mentor pun bertanya, (mungkin maksudnya nguji kali ya. Sotoy :D), "Engga nanggung pake sekarang?"
"Enggak, kak. Sebentar lagi kan foto ijazah. Saya enggak mau nanti foto dalam kondisi tidak menutup aurat, foto itu akan dilihat semua orang yang melihat ijazah saya. Meski saat SMA saya sudah pake jilbab, tapi mereka bisa melihat foto SMP saya yang tidak berjilbab. Saya malu...." 

Ya... saya malu saat mendahukukan kata nanggung dibandingkan mengikuti perintah Allah SWT. Saya malu pada syurga, tempat dimana saya kelak akan bercanda ria disana...


NB: Jazakillah khair untuk Noey... yang telah memberikan baju seragamnya untuk saya. Dan ahlan wa sahlan untuk teman-teman yang memutuskan untuk berjilbab.  Love u all coz Allah SWT :)

Senin, 15 Oktober 2012

REVIEW
 Apa Bentuk Komitmen Saya Kepada Islam
Karya : Dr. Fathi Yakan



Menjadi muslim yang baik tidak cukup hanya dengan mengandalkan faktor keturunan, identitas, atau penampilan luar. Untuk menjadi muslim yang sejati, kita harus memilih, berkomitmen, dan berinteraksi dengan Islam dalam segenap aspek kehidupan.

Berikut ini saya jabarkan secara ringkas, sifat-sifat yang paling signifikan yang harus dimiliki oleh setiap muslim agar pilihannya menjadi seorang muslim menjadi benar dan tulus.

1. BENTUK KOMITMEN SEORANG MUSLIM
Mengislamkan Aqidah 
Syarat pertama dalam berkomitmen kepada Islam adalah : Aqidah seorang muslim harus lurus, jelas, dan benar, sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw. Oleh karena itu dapat mengislamkan aqidah, maka wajib bagi seorang muslim untuk :
  1. Mengimani bahwa pencipta alam semesta ini adalah Ilah yang Maha kuasa. Hal ini terbukti dengan bergeraknya alam ini dengan sistem yang sangat baik, teliti, dan harmonis. (QS. Al-Anbiya’ : 22)
  2. Mengimani bahwa Al-Kholiq menciptakan alam semesta ini secara main-main atau tanpa tujuan, karena Allah swt adalah Dzat yang Maha sempurna. (QS. Al-Mu’minun : 115-116)
  3. Mengimani bahwa Allah swt telah mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab suci sebagai sarana agar manusia mengenal-Nya. (QS. An-Nahl : 36)
  4. Mengimani bahwa tujuan diciptakannya manusia adalah untuk mengenal dan mengabdi pada Allah swt. (QS. Adz-Dzariyat : 56-58)
  5. Mengimani bahwa balasan bagi mu’min yang taat adalah jannah dan orang kafir adalah neraka. (QS. Asy-Syura : 7)
  6. Beriman bahwa manusia melakukan amal yang baik atau buruk dengan pilihan dan kehendaknya sendiri. (QS. Asy-Syams : 7-10).
  7. Mengimani bahwa pembuat hukum hanyalah hak Allah yang tidak boleh dilangkahi, dan seorang muslim boleh berijtihad yang disyari’atkan oleh Allah. (Q.S. Asy-Syura : 10)
  8. Mengetahui nama-nama dan sifat-sifat Allah swt yang sesuai dengan kebesaran-Nya.
  9. Merenungkan ciptaan Allah dan bukan Dzat-Nya.
  10. Meyakini bahwa kesempurnaan Allah swt yang tidak ada habis-habis dan hakikatnya tidak bisa diukur oleh kemampuan akal manusia.
  11.  Meyakini bahwa pendapat salaf lebih utama diikuti untuk menutup peluang ta’wil dan ta’thil (nafikan sifat-sifat Allah swt) serta menyerahkan makna hakiki dari nama dan sifat Allah itu hanya kepada-Nya. Mengabdi kepada Allah dengan tidak menyekutukanNya.
  12. Harus menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya. (QS. An-Nhal : 36)
  13. Hanya takut kepada Allah swt dan tidak pernah takut kepada selain-Nya. (QS. An-Nur :52)
  14. Berdzikir kepada-Nya (QS. Ar-Ra’d : 28])
  15. Mencintai Allah swt sampai hati seorang muslim dikuasai oleh-Nya dan terkait erat dengan-Nya sehinggan mendorong ia lebih baik dan rela berkorban di jalan-Nya. (QS. At-Taubah : 24)
  16. Bertawakkal kepada Allah dalam segala urusan. (QS. At-Thalaq : 3)
  17. Bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya yang tak terhitung. (QS. An-Nahl : 78, Yasin : 33-35, Ibrahim : 7)
  18. Beristighfar kepada-Nya, karena dapat memperbaharui taubat, iman, dan menghapus dosa. (QS. An-Nisa’ :110, Ali-Imran : 135)
  19. Menyadari bahwa diri selalu diawasi oleh-Nya.. (Q.S. Al-Mujadilah : 7)
Mengislamkan Ibadah 
Ibadah merupakan anak tangga yang menghubungkan makhluk dengan penciptanya. Untuk menjadi muslim sejati dalam beribadah, ada beberapa tuntutan yang harus dipenuhi :
1.         Menjadikan ibadah dengan penuh hikmah dan tersambung dengan Allah swt
2.         Menjadikan ibadah dengan khusyu
3.         Beribadah dengan hati yang penuh kesadaran dan menjauhkan pikiran tentang kesibukan dunia dan problematika yang ada di sekitarnya.
4.         Tidak pernah merasa puas dan kenyang dalam beribadah
5.         Berusaha untuk mengerjakan shakt tahajjud dan melatih diri untuk konsisten dalam pelaksanaannya. (QS. Al-Muzzammil : 6, Adz-Dzariyat 17-18, As-Sajadah : 16)
6.         Mempunyai waktu khusus untuk mengkaji dan merenungkan Al-Qur’an terutama di waktu subuh (QS. Al-Isra’ : 78)
7.         Menjadikan do’a sebagai mi’roj kepada Allah dalam setiap urusan, karena do’a adalah intisari ibadah.

Mengislamkan Akhlak
Akhlak mulia adalah bukti dan buah dari keimanan yang benar. Iman tidak berarti apa-apa jika tidak melahirkan akhlak. Ada beberapa sifat penting yang harus dimiliki oleh seorang muslim sejati dalam berakhlak, antara lain :
1.         Bersikap wara’ dari segala hal yang syubhat
2.         Menjaga pandangan (QS. An-Nur : 30)
3.         Menjaga ucapan
4.         Malu
5.         Lapang dada dan sabar (QS Asy-Syura : 43, Al-Hijr : 85)
6.         Jujur
7.         Tawadhu’
8.         Menjauhi prasangka, ghibah, dan mencari-cari aib orang islam
9.         Murah hati dan dermawan
10.     Qudwah hasanah

Mengislamkan Rumah Tangga Dan Keluarga
Kewajiban pertama yang harus dipikul oleh seorang muslim, setelah kewajiban terhadap diri sendiri adalah bertanggung jawab atas keluarga, anak-anaknya. Untuk membentuk rumah tangga yang islami maka hal yang perlu dilakukan antara lain :
1.    Tanggung jawab atas pernikahan
·           Pernikahan yang lakukan harus karena Allah ( QS. Ali-Imran : 34)
·           Selektif dalam pilihan kepada perempuan/ pria yang akan dipersuntingnya
·           Memiih calon istri/ suami yang memiliki akhlak yang baik dan shalih/ah.Selalu berhati-hati agar tidak melanggar perintah Allah swt dalam hal ini.
2.  Tanggung jawab setelah menukah
·         Berbuat baik kepada istri dan mempergauliny dengan cara yang baik pula.
·         Hubungan suami istri tidak hanya sebatas hubungan seks dan nafsu, namun sebekum itu semua, di antara kedunya harus terbangun kesamaan pikiran, semangat dan emosi. (QS. Thahaa : 132)Semua hubungan dengan istri/suami harus senantiasa selaras dengan syariat Islam.
3. Tanggung jawab suami-istri dalam mendidik anak
Tanggung jawab mendidik anak juga harus kita islamkan agar anak memiliki mentalitas dan fikriyah yang kuat sehingga akan membentuk suatu keluarga yang islami.


2. BENTUK KOMITMEN SEORANG MUSLIM KEPADA HARAKAH ISLAMIYAH
     Mempersembahkan Hidup Untuk Islam
Berkenaan dengan ini, manusia dibagi menjadi 3          
  • Manusia yang mengabdikan hidupnya untuk dunia
  • Manusia yang hidupnya tidak jelas
  • Manusia yang menganggap kehidupan dunia sebagai bagi kehidupan akhirat
     Harakah Ismilyah : Tugas, Karakteristik, dan Bekal
Tugas   Harakah Islamiyah  adalah : mengarahkan manusia agar menyembah Allah swt, baik individu maupun kelompok, melalui usaha membangun masyarakat Islami yang mengadopsi hukum-hukum dan ajaran-ajarannya dari Al-Qur’an dan sunah Rasulullah saw. Adapun Karakteristik dari Harakah  Islamiyah adalah ; Rabbaniyah, independen, modern, komprehensif, menghindari permasalahan  khilafiyah dalam fiqih. Dan bekal dari harakah Islamiyah itu sendiri adalah ; memiliki keimanan yang  sangat kuat terhadap Allah swt, manhaj, ukhwah dan balasan dari Allah swt., percaya dengan diri sendiri dan jihad.

Sungguh banyak orang yang menganut Islam sebatas identitas (KTP) atau menganut karena lahir dari orang tua yang muslim. Sebenarnya, kedua model muslim di atas sama-sama tidak mengerti, apa arti keberadaannya sebagai muslim? Mereka tidak tahu konsekuensi yang harus ditanggung ketika menyatakan diri sebagai muslim. Semoga resume ini, dapat menjawab semua pertanyaan seperti di atas sekaligus menjelaskan apa yang dituntut oleh Islam dari setiap pemeluknya. Hal ini ditujukan agar keberadaannya sebagai muslim menjadi lurus dan murni sehingga ia benar-benar menjadi muslim sejati.

** Ya Rabb jadikan ikhtiar dan do'a-do'a kami menjadi sarana sebagai jembatan untuk menjadi muslim yang sebenar-benarnya muslim....